MUI: Buzzer Penyebar Fitnah Sama Seperti Pemakan Bangkai

Minta SKB 3 Menteri Dicabut, Kiai CholiI: Anak Perlu Dipaksa Lakukan Perintah Agama agar Terbiasa

MediaPerjuangan.com – Jauh sebelum muncul desakan agar buzzer yang memecah persatuan ditertibkan belakangan ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial.

Fatwa itu juga mengatur soal buzzer dan pencitraan di media sosial.

Ketua Komisi Dakwah MUI KH Cholil Nafis mengatakan, buzzer di media sosial yang memberikan informasi berisi hoaks, gibah, fitnah, namimah atau adu domba, gosip, dan lain-lain yang bersifat keburukan, itu diharamkan. Bahkan buzzer seperti itu sama seperti pemakan bangkai.

“Saya menyebut orang yang memfitnah, yang tidak ada diada-adakan, bohong, naminah, mengadu dompu, lalu gibah menceritakan kejelekan orang lain di depan umum, kalau itu maknanya buzzer ya, itu sama di dalam Al-Quran disebutkan seperti makan bangkai saudaranya,” kata Cholil kepada kumparan, Kamis (11/2).

Lebih detailnya, hal itu tertuang di Surat Al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi:

[…] Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

(QS. Al-Hujurat: 12)

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menyamakan orang yang suka menggibah seperti memakan bangkai saudaranya sendiri, suatu perbuatan yang menjijikan. Gibah juga bisa merusak tali persaudaraan.

Namun bila yang dilakukan buzzer terkait dengan kebaikan, tentu, kata Cholil, hal tersebut tidak jadi masalah. Tekanannya lebih pada tindakan yang dilakukan buzzer apakah untuk menyebar kebaikan atau keburukan.

“Jadi kalau buzzer memfitnah, menggibah, ya tentu di situ [makan bangkai], tapi kalau buzzer dalam arti menyebarkan kebaikan dan menunjukkan kelebihan itu saya pikir sah-sah saja,” tutup Cholil.

Asal Usul Buzzer

Istilah buzzer berasal dari bahasa Inggris yang berarti lonceng, bel, atau alarm. Dalam Oxford Dictionaries, buzzer berarti perangkat elektronik yang menghasilkan suara berdengung sebagai sinyal.

Centre for Innovation Policy and Governance (2017) mendefinisikan buzzer sebagai individu atau akun yang memiliki kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dan/atau membangun percakapan dan bergerak dengan motif tertentu.

“Ringkasnya, (buzzer) adalah pelaku – membuat suara-suara bising seperti dengung lebah,” kata CIPG dalam laporan yang diterbitkan tahun 2017.

Buzzer Musuh Besar

Dalam rangka Hari Pers Nasional pada 9 Februari 2021, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengangkat tantangan pers masa kini. Ia menunjuk buzzer yang tak bertanggung jawab sebagai musuh terbesar pers.

“Musuh terbesar dunia pers saat ini, khususnya pers online melalui jalur media sosial, ialah para buzzer yang minim tanggung jawab kebangsaan, etika cover both sides, dan keadaban mulia,” kata Haedar dalam publikasi di situs Muhammadiyah, Rabu (10/2).

MUI: Buzzer Penyebar Fitnah Sama Seperti Pemakan Bangkai (1)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Foto: muhammadiyah.or.id

Pernyataan dari Muhammadiyah ini berselang sehari setelah Presiden Jokowi menyatakan masyarakat harus turut aktif mengkritik pemerintahannya.

Statement Jokowi mendapat reaksi beragam dari masyararat. Sejumlah pihak justru mengkhawatirkan buzzer yang acapkali menjadi benteng kritik yang dialamatkan ke pemerintah.

Sumber: Kumparan

Soal Kasus Abu Janda, Polri: Penyidik Masih Bekerja

Soal Kasus Abu Janda, Polri: Penyidik Masih Bekerja

Jika Benar Penolakan Revisi UU Pemilu Untuk Jadikan Gibran DKI 1 Itu Penyalahgunaan Kekuasaan

Jika Benar Penolakan Revisi UU Pemilu Untuk Jadikan Gibran DKI 1 Itu Penyalahgunaan Kekuasaan